Sejak awal milenium pertama, Jawa bagian barat mengalami perubahan penting sebagai dampak interaksi dengan pusat peradaban di jalur maritim Asia Tenggara. Peradaban peradaban besar yang diperkenalkan para pedagang India dan Timur Tengah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan masyarakat perkotaan di muara Ci-Banten dengan mendirikan dua pusat politik: Sunda-Hindu dan Jawa-Islam antara abad X dan XVI. Keberadaan kekuasaan pesisir berbasis perdagangan pada gilirannya mempengaruhi budaya lokal di pedalaman Banten. Gejala adaptasi budaya dapat dilihat pada jejak material Pra-Islam yang tersebar di pegunungan selatan Banten. Namun untuk mengungkapkan fenomena budaya itu, para ahli etnografi dihadapkan pada kesulitan memperoleh sumber sejarah setempat.